Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Maret 2016

Bawa Kantong ke Mall ??? menghemat uang karena tidak perlu membeli plastik biodegradable

Kenapa hanya menyarankan menggunakan kantong platik ramah lingkungan berbayar??? kenapa tidak dengan melarang produk produk dengan penggunaan kemasan plastik ?? mulai dari kosmetik, minuman, makanan, obat, dll ??? knp harus bayar ???

Sekarang, apakah anda akan memilih untuk menggunakan plastik biodegradable "plastik berbayar " yang mahal, ataukah anda akan memilih plastik biasa yang murah namun menambah limbah plastik? Pilihan ada di tangan anda. Namun, ada satu hal yang patut kita semua pertimbangkan, yaitu mengurangi penggunaan plastik dengan membawa kantong / tas sendiri saat berbelanja, selain anda


menghemat uang karena tidak perlu membeli plastik biodegradable, anda juga menekan angka penggunaan plastik yang berarti juga menekan angka limbah plastik di Bumi ini. Mari kita berpikir untuk hidup ke arah yang lebih baik dan ramah lingkungan.

Kamis, 25 Februari 2016

Razia Kendaraan Bermotor Di Pekalongan

Akhir - akhir ini jajaran  Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Pekalongan baik Kabupaten maupun kotamadya  rajin menggelar razia kendaraan bermotor di jalur pantura tiap pagi dan sore dalam dua kali sepekan. ini adalah hal yang sangat baik, kalau bisa tiap hari bisa dua kali sehari kayak minum obat. alangkah baiknya juga jangan hanya di jalur pantura, hal ini untuk mengantisipasi banyaknya pelanggaran lalin, kelengkapan surat juga meminimalisir kejahatan curanmor dan aksi kejahatan lainnya terutama kegiatan terorrisme. semakin banyak yang ditilang kas negara juga bertambah yang penting tidak masuk kantong sendiri ya om polisi? "celanane aja dibolongi" .
lampu merah juga masih banyak yang harus dibenahi, kalau bangjo mati malah "sepi" om polisinya. pokoke baguslah razia terus, jangan lupa juga razia miras, judi dan narkoba. 











Senin, 09 November 2015

Ciri-Ciri Cowok Gay atau HOMO



Ciri-ciri cowok atau pria gay wajib anda ketahui. Apalagi bila teman atau pacar anda berperilaku tidak sewajarnya pria biasa. Jangan salah, kadang cowok gay menyembunyikan identitasnya itu dengan memacari wanita. Namun kelakukan cowok gay tidak bisa mereka tutupi dengan rapi. Ada beberapa ciri-ciri yang dapat anda kenali seperti yang akan jelaskan berikut ini.
Menjadi cowok gay, cowok homo, atau biasa dipanggil MAHO memang mungkin bukan kemauannya. Di negara maju mungkin perilaku ini sudah tidak malu mereka tunjukkan di depan umum, tapi di Indonesia menjadi pria gay adalah tabu dan dianggap sangat memalukan. Untuk itu pria gay di Indonesia banyak yang menyembunyikannya dengan sangat rapi. Anda tidak akan menyangka bahwa ciri-ciri cowok gay sebenarnya banyak di dambakan para wanita. Kok bisa? Yaps, cowok gay ini biasanya memiliki :
1. Wajah Bersih Terawat
Ternyata cowok gay sangat peduli dengan wajahnya. Dia selalu merawatnya dan tidak akan membiarkannya kusam. Di saat cowok tulen cuek dengan wajahnya, cowok gay akan selalu peduli dan khawatir jika wajahnya terlihat jelek di mata cowok lain. Tapi cowok gay berbeda dengan banci yang berdandan menor, pria gay lebih bisa menjaganya dengan rapih hingga tidak bisa ditebak bahwa ada kelainan pada cowok ini.
2. Modis
Tidak hanya fisik yang ia perhatikan. Ciri Pria Homo selalu menjaga penampilan fashionnya agar selalu modis. Dia menyukai pakaian dan model rambut yang bagus serta ngetren dan disukai banyak orang termasuk laki-laki. Kadang pria tulen kalah modis dengan cowok gay.
3. Wangi
Nah ini salah satu ciri cowok gay yang dapat anda kenali dengan mudah. Cowok gay biasanya lebih wangi mencolok dari cowok-cowok biasanya. Pria gay selalu menggunakan parfum dan tidak akan membiarkan dirinya bau asem. Jika pacar anda seringkali tampil dengan wewangian yang berlebihan bisa jadi cowok anda adalah seorang maho.
4. Sorot Mata Tajam
Ketika Cowok gay tertarik dengan sejenisnya maka dia akan mengeluarkan sorot mata yang tajam ke arah cowok lain. Haduh bahaya sekali. Pria gay biasanya memandang pria lain dengan penuh arti dan kasih sayang. Tatapannya seperti hendak mengatakan sesuatu.
5. Suka Memuji Cowok
Coba perhatikan perilaku cowok maho ini, apakah dia sering memuji laki-laki? Entah itu idolanya atau seorang cowok biasa. Biasanya cowok gay secara tidak sadar dapat memuji kegantengan cowok lain atau mengagumi kepribadian pria yang dirasa adalah tipe-nya.
6. Gestur Tubuh
Ketika pria tulen cuek dengan gestur tubuhnya, pada cowok gay justru amat memperhatikan bagaimana gestur tubuhnya apakah sudah pas atau belum. Gerak geriknya tidak seperti pria tulen yang tidak peduli, cowok gay menata posisinya ketika duduk dan juga menata posisi tangannya sedemikian rupa.
7. Suka Ngegosip
Nah cowok gay biasanya suka sekali membicarakan orang lain. Mungkin pria tulen juga terkadang membicarakan orang lain tapi ya ala kadarnya saja. Biasanya pria gay amat peduli dengan kehidupan orang lain terutama pria.
8. Suka Film yang Romantis
Pria homo suka sekali melihat film-film romantis yang mengundang iri dan air mata. Pria gay juga tidak suka melihat adegan action yang menegangkan. Saat adegan sedih cowok gay bisa sampai menangis dan terbawa suasana.
9. Badan Atletis
Pria gay sangat menjaga bentuk tubuhnya dan cenderung atletis. Otot yang terbentuk di tubuhnya akan semakin menambah kepercayaan diri dan dianggap dapat mendapat perhatian dari pria lain.
Selain beberapa ciri di atas, ada pula ciri khusus yang mereka miliki dan kadang hanya diketahui oleh sesama gay. Mereka sengaja memasang kode-kode kusus untuk menunjukkan jati diri mereka pada sesama jenis. Kode ini bisa bermacam-mcacam dan biasanya mereka mempunyai komunitas kusus yang menaungi.
Dari beberapa sumber Fakta Lelaki mendapat informasi beberapa ciri-ciri khusus kaum Gay seperti :
1. Anting pada Telinga Kanan
Cowok mengenakan anting atau tindik sekarang ini memang bukan hal yang luar biasa, terutama buat mereka yang mengidolakan musik rock maupun punk. Tindik bagi mereka yang suka musik cadas biasanya terpasanag di telinga kiri. Ciri Cowok Gay akan menindik telinga sebelah kanan mereka untuk menyamarkan identitas mereka dan agar mereka bisa saling mengenali dengan cepat.
2. Sapu tangan di Kantong Celana
Sapu Tangan yang diselipkan di kantung celana bagi kaum gay memiliki arti atau kode sesuai warnanya. Sapu tangan warna hijau berarti cowok gay tersebut siap dianal. Sedang kalau sapu tangan berwarna merah untuk gay yang hanya mau menganal saja.
3. Cincin di Kelingking atau Jempol
Penggunaan cincin di kelingking masih kerap digunakan kaum gay hingga saat ini. Jadi waspadalah pada pemsangan cincin laki-laki orang-orang di sekitar anda. Aksesoris yang biasa dipakai oleh pria biasanya di jari manis. Namun, sekarang trennya berubah, banyak kaum gay yang memakai cincin di jari jempol, ada yang memakai cincin kecil, ada juga yang memakai cincin Tessi atau akik yang sedang marak saat ini.
Setelah anda memahami ciri cowok gay di sekitar anda maka semakin berwaspadalah. Dan apabila anda seorang pria dan memiliki beberapa ciri di atas maka segeralah sadar, karena bagaimana pun menjadi penyuka sesama jenis adalah tindakan yang salah dan menyalahi kodrat.
 Jika Anda ingin diam-diam mencari tahu apakah seseorang yang Anda kenal gay, maka Anda harus berhati-hati dalam proses yang sensitif ini. Untuk mencari tahu apakah seseorang yang Anda kenal gay, Anda perlu mengamati orang tersebut dan tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Anda mungkin dapat mencari tanda-tanda apakah seseorang itu gay, tetapi pada akhirnya, Anda tidak akan pernah tahu pasti kecuali orang tersebut membuka diri pada Anda. Jika Anda ingin diam-diam dan mencari tahu apakah seseorang dalam hidup Anda gay, ikuti langkah-langkah berikut ini.

  Jangan tanyakan pada semua orang yang Anda kenal apakah ia gay. Hal ini adalah hal terburuk yang dapat Anda lakukan jika Anda ingin diam-diam mencari tahu apakah seseorang itu gay. Jika seseorang gay dan belum terbuka mengenainya, ia pasti punya alasan bagus, dan hal terakhir yang diinginkan orang tersebut adalah Anda bertanya-tanya pada semua orang yang Anda jumpai apakah mereka pikir ia gay.
  • Jika seseorang belum terbuka, maka orang-orang yang Anda jumpai mungkin tidak tahu keadaannya. Dan jika ia terbuka pada mereka, mereka tidak akan mengatakan pada Anda. Jadi jika Anda bertanya pada setiap orang, yang Anda lakukan hanyalah membuat hidup orang tersebut semakin rumit, baik ia gay maupun tidak.
  • Jika orang tersebut gay, ia jelas tidak ingin semua orang mencurigai hal ini. Dan jika Anda tidak gay, maka pada dasarnya Anda hanya menyebarkan gosip bahwa ia benar gay tanpa alasan tertentu.
  • Ditambah lagi, jika orang tersebut tahu Anda bertanya kesana kemari pada setiap orang, maka ia tidak akan pernah membuka diri pada Anda.
  Jangan menilai gaya orang tersebut berpenampilan. Satu mitos yang konyol tentang cara mencari tahu apakah seseorang yang Anda kenal gay adalah dengan melihat bagaimana cara orang tersebut berpakaian. Jika orang tersebut memakai pakaian ketat, dengan warna-warna dan pola-pola terang, maka orang tersebut pasti gay, bukan? Anda salah. Semua orang dapat memakai pakaian ketat atau yang berwarna terang – hal ini tidak berhubungan dengan menjadi gay.
  • Di samping itu, banyak pria metroseksual dan wanita atletis di luar sana. Bagaimana seseorang berpakaian tidak mengindikasikan orientasi seksual mereka. Jadi, jangan buang waktu mencoba menganalisis apa artinya jika teman perempuan Anda mengubah gaya pakaiannya, atau jika teman pria Anda tiba-tiba memakai celana yang lebih ketat.
Jangan mengamati cara orang tersebut berbicara. Hal ini adalah mitos konyol lain yang harus dihindari. Jangan menghabiskan waktu melihat bagaimana orang tersebut mengulur kata-katanya atau ekspresi serta intonasi apa yang digunakan orang tersebut saat ia berbicara. Anda dapat menghabiskan bertahun-tahun menganalisis cara seseorang berbicara dan hal ini tidak akan membawa Anda ke mana pun, jadi, jangan buang waktu Anda.

Jangan terobsesi dengan selera musik atau acara TV orang tersebut. Anda dapat berspekulasi bahwa teman laki-laki Anda gay karena ia sangat menyukai Madonna dan GLEE semau Anda, tetapi kemungkinan besar, Anda hanya buang-buang waktu. Orang-orang yang gay ada di mana-mana dan mereka tidak perlu memiliki selera yang "menakjubkan". Kenyataannya, jika seseorang belum terbuka, ia mungkin akan mencoba membaur dan tidak menyebutkan seleranya terhadap musik atau acara TV yang akan membuat orang mencurigai ia bukan heteroseksual.
  • Berpikir bahwa ada korelasi antara selera musik dengan orientasi seksual adalah konyol. Jangan membuang waktu untuk hal semacam ini.

Amati Orang Tersebut

Lihat bagaimana orang tersebut bereaksi terhadap topik mengenai kaum gay. Ini merupakan obyek pembicaraan yang rumit. Tidak ada reaksi khusus yang umumnya ditampilkan oleh orang yang gay terhadap topik mengenai kaum gay. Tetapi ada dua tanda yang dapat diamati: Jika orang tersebut sangat berkomitmen terhadap hak-hak kaum gay, dan sering berbicara tentang dukungannya terhadap kaum gay, dan jika Anda telah memiliki beberapa alasan untuk mencurigai ia gay, maka kemungkinan besar ia memang gay. Meskipun demikian, orang yang belum terbuka biasanya tidak akan melakukan hal ini. Cobalah mendiskusikan tentang hal ini dengan orang lain di depannya, dan lihat seberapa tertariknya ia akan topik tersebut. Jika ia masih tertutup, ia akan mengamati pendapat orang-orang dengan sangat hati-hati.Jika orang tersebut sangat benci homoseksual dan memberi komentar yang melawan kaum gay setiap ia mendapat kesempatan, ada kemungkinan orang tersebut gay, atau bahkan mungkin belum menyadari bahwa dirinya gay, dan ide untuk membuka diri pada orang lain membuatnya sangat tidak nyaman sehingga menimbulkan reaksi seperti di atas. Hal ini bukan berarti ada reaksi tertentu yang dapat membantu Anda menentukan apakah seseorang itu gay.


Lihat bagaimana orang tersebut bereaksi terhadap lawan jenis. Sekali lagi, tidak ada satu cara khusus bagi orang gay untuk bereaksi terhadap lawan jenis yang dapat memastikan bahwa ia gay. Orang yang gay sama mungkinnya untuk memiliki sejuta teman perempuan atau tidak memiliki teman sama sekali. Jika orang yang Anda kenal ini laki-laki dan Anda tidak pernah melihatnya memiliki kekasih perempuan, berbicara pada perempuan, atau menunjukkan ketertarikan pada perempuan, maka memang ada kemungkinan bahwa ia gay. Tetapi mungkin saja ia sangat pemalu. Jika Anda masih SMA dan ia belum pernah mempunyai pacar, ia jauh lebih tidak mungkin gay dibandingkan dengan jika ia berusia empat puluh tahun dan Anda belum pernah melihatnya bersama perempuan.Orang tersebut juga mungkin selalu berpacaran dengan lawan jenis. Seorang pria gay bahkan dapat menjadi penakluk wanita sejati selama beberapa saat.Jika berada di luar, Anda dapat melihat apakah orang tersebut memberi tanda menggoda pada sesama jenis. Jangan menatapnya atau bersikap terlalu kentara saat melakukannya. Orang tersebut bisa saja memang sangat bersahabat.


Lihat siapa teman-temannya. Meskipun seorang yang gay bisa saja mempunyai teman-teman yang hampir semuanya heteroseksual, ia lebih mungkin berteman dengan lebih banyak orang yang juga gay. Jika orang tersebut bergaul dengan banyak orang yang gay secara terbuka, maka mungkin ia telah membuka diri pada mereka, dan belum membuka diri pada setiap orang. Jika ia pergi ke banyak bar gay dengan mereka "hanya untuk bersenang-senang," maka ia bisa jadi memang gay. Ia juga dapat bergaul dengan orang-orang yang sama-sama belum membuka diri.Jika orang tersebut menghabiskan banyak waktu bergaul dengan satu orang saja sesama jenis, dan orang tersebut gay, atau ia sering menginap di tempat orang tersebut dan tampak sering menggodanya, maka ada kemungkinan ia gay. Tetapi mungkin saja tidak -- orang gay dapat bersahabat dengan orang heteroseksual sesama jenis, bukan?


Periksa profil Facebooknya. Meskipun jika seorang gay sudah membuka diri, ia umumnya tidak akan terlalu gamblang mengenai orientasi seksualnya di Facebook, namun Anda masih dapat membaca profilnya untuk mencari tanda-tanda orientasi seksualnya. Tetapi hal ini hanya akan membantu Anda sampai batas tertentu saja. Lihat berapa banyak teman orang tersebut yang gay, dan apakah mereka tetap berhubungan dengan orang tersebut. Sekali lagi, hal ini tidak berarti orang yang Anda kenal ini pasti gay, tetapi bahkan Facebook mempunyai cara untuk mengetahui bahwa Anda lebih mungkin gay jika Anda mempunyai lebih banyak teman gay dibandingkan dengan rata-rata orang. Baca postingan-postingan orang tersebut. Apakah ia selalu memposting tentang hak-hak kaum gay? Hal ini dapat berarti bahwa ia semata-mata bersemangat tentang prinsip tersebut, atau bahwa ia merasa lebih nyaman akan orientasi seksualnya di Facebook.


Diam-diam tanyakan pada teman-teman Anda yang gay apakah mereka tahu sesuatu. Jika Anda memiliki alasan yang baik untuk ingin tahu apakah orang tersebut gay, tanyakan pada teman-teman Anda yang gay, jika ada. Mereka mungkin merupakan sumber yang berharga karena dua alasan. Pertama, mereka mungkin pernah mendengar sesuatu tentang orang tersebut dari kaum gay lainnya, atau pernah melihatnya di acara-acara tertentu. Kedua, mereka mungkin lebih berkapasitas untuk mengatakan apakah orang tersebut gay berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Anda hanya disarankan untuk bertanya pada mereka jika mereka lebih dekat dengan Anda dibandingkan dengan orang yang Anda curigai sebagai gay. Jika tidak, rencana Anda untuk diam-diam akan mental dan orang tersebut akhirnya akan tahu. Iklan

  Tanyakan Padanya


Pastikan Anda bertanya untuk alasan-alasan yang tepat. Ada beberapa alasan sah mengapa Anda ingin tahu apakah seseorang itu gay, namun ada pula beberapa alasan yang tidak dibenarkan. Jika Anda ingin tahu apakah seseorang itu gay, maka alasan yang benar adalah karena Anda dekat dengan orang tersebut dan ingin menunjukkan bahwa Anda sepenuhnya mendukungnya menjadi gay dan bahwa Anda ingin berada di sana untuknya.
  • Jika Anda tidak terlalu dekat dengan orang tersebut dan hanya penasaran, maka Anda tidak perlu mencari tahu.
  • Jika Anda bertanya-tanya apakah pasangan teman Anda yang heteroseksual gay, maka Anda juga tidak perlu mencari tahu. Hal itu bukan urusan Anda, kecuali Anda memiliki alasan serius untuk mencurigai orang tersebut gay dan khawatir mengenai teman Anda.
  • Jika Anda benar-benar menyayangi orang tersebut dan menganggapnya teman dekat yang terkasih, maka Anda dapat bertanya jika Anda benar-benar ingin tahu. Tetapi ingatlah bahwa orang tersebut mungkin masih blm siap untuk terbuka – dan hal ini tidak ada hubungannya dengan Anda.


 Bertanyalah. Jika Anda benar-benar ingin tahu, cari waktu di mana Anda dapat berdua saja dengan orang tersebut, dan katakan padanya bahwa Anda menyayanginya apa pun yang terjadi, dan tanyakan apakah ia ingin mengatakan sesuatu pada Anda. Jika tidak, maka pelan-pelan tanyakan apakah ia mungkin gay, dan katakan bahwa Anda hanya ingin tahu karena Anda ingin mendukungnya dan Anda ingin ia terbuka pada Anda.
Ingatlah bahwa hal ini belum tentu akan berhasil. Orang tersebut memiliki alasan untuk tidak mengakui bahwa ia gay pada Anda, dan kemungkinannya kecil bagi Anda untuk memaksa seseorang membuka diri.
Jika orang tersebut mengakui bahwa ia gay dan perlu bantuan untuk membuka diri, maka teruslah mengatakan padanya betapa Anda menyayanginya dan bahwa Anda ada di sampingnya seratus persen. Jika Anda adalah orang pertama yang membuat orang tersebut mengakui orientasi seksualnya, maka Anda telah membuat langkah dan lebih siap untuk tinggal di sisi teman Anda.

Selasa, 03 November 2015

Ngrumpi

Budaya ngrumpi sudah tidak asing bagi masyarakat kita khususnya asia. Asyik sekali ngobrol ngalor ngidul. Uyeee awas jangan buka aib orang loghhh. .

Senin, 02 November 2015

Jangan Pusing-Pusing Mikirin Soal Pacaran


Assalamu’alaikum…
Hay sobat setia… Saya pengen berbagi cerita nich dengan sobat2 sekalian,, Kemaren tuch sewaktu saya merenung, saya dapet sebuah pendapat atau bisa di bilang ide yah dari masalah yang namanya “Pacaran”.Mungkin selama ini kita semua sudah terlalu sering menulis artikel, status di FB, kirim sms tausiah, dll caranya. Tentang hukum pacaran di dalam islam, tentang haramnya pacaran di dalam islam. Dengan tujuan untuk mengikatkan agar para remaja yang masih pacaran segera meninggalkannya. Tetapi,, tanpa kita sadari telah begitu banyak yang kita tulis,,, nyatanya hampir 90 % dari mereka yang membacanya tidak memperdulikannya.
Ok… Itu semua adalah hal yang bagus dan harus di lanjutkan… Tetapi anehnya kenapa di antara kita semua  hanya menuliskan tentang haramnya pacaran saja dari segala sumber mulai A-Z. Sedangkan hampir tidak ada yang menuliskan tentang Shalat..??? Dan menurut saya yang harus kita lakukan saat ini bukanlah terus2an mengajak para remaja islam untuk tidak pacaran/meninggalkan pacaran, tanpa mereka perdulikan. Tetapi yang harus kita lakukan adalah mengajak para remaja islam untuk mengerjakan Shalat 5 waktu dan menjaga Shalat 5 waktu tersebut. Bukankah shalat 5 waktu adalah penjaga dari segala penjaga???Bukankah shalat 5 waktu adalah benteng dari segala kemaksiatan??? iyah nggak???
Sobat… ketika para remaja telah melaksanakan shalat 5 waktu dan menjaga shalat 5 waktunya tersebut, maka ia akan selalu merasa di awasi oleh Allah SWT di setiap desah nafasnya, sehingga ia tidak akan berani untuk melakukan perbuatan maksiat sekecil apapun. Maka,,, ketika seseorang telah berhasil melaksanakan shalat 5 waktu dengan benar dan menjaga shalatnya tersebut, tidak akan mungkin seseorang tersebut mau dan berani untuk “PACARAN”. maka kuncinya adalah :
Mari kita ajak teman2 kita untuk shalat 5 waktu dengan baik dan benar serta menjaga shalatnya tersebut. Karena dengan itu maka pacaran akan bisa kita atasi. So,,, kita tak perlu repot2 lagikan ngajak mereka untuk tidak pacaran???
Trussssss??? kenapa udah shalat 5 waktu koq masih tetep pacaran???
Berarti shalatnya belum bener donk… atau jangan2 nggak shalat??? Pikir aja ndiri!!! Kamu yang lebih mengerti akan dirimu…
Saya harap sich sobat2 setuju… Mohon maaf atas segala kesalahan…
Wassalamu’alaikum…. :-)

Ngudang Anak; Nyanyian dan Cerita

Ada beberapa hal yang menarik ketika kita masih kecil yaitu kita dinynyikan lagu pengantar tidur dan beberapa cerita cerita rakyat. mungkin pada jaman sekarang tradisi ngudang anak dengan melakukan tradisi tersebut mulai jarang dilakukan masyarakat. orang tua saat ini cenderung membiarkan saja anak tidur tanpa di kudhang kudang terlebih dahulu. sebenarnya banyak sekali manfaatnya kenapa leluhur kita melakukan hal tersebut, satu diantaranya adalah menciptakan  kedekatan orang tua dengan anak, kemudian juga memberikan pengajaran nilai nilai luhur moral dan etika dengan nyanyian dan cerita, sebagai media bersosial karena biasanya tradisi momong anak diwaktu sore dijadikan ajang berkumpulnya para ibu ibu, dan terciptanya generasi yang sadar akan dari mana ia berasal; JAS MERAH ( jangan sekali kali melupakan sejarah)
Masyarakat Jawa mengakui bahwa warisan yang diciptakan leluhur adalah salah satu budaya yang arif dan adiluhung guna mencapai kesempurnaan hidup.
salah satu nyanyian yang mungkin kita kenal selain tembang tembang macapat juga ada tembang dolanan, cerita rakyat dan sebagainya.

berikut salah satu nyanyian tembang dolanaan  yang mungkin jarang sekali dinyanyikan :

isuk isuk tengak tenguk, isuk isuk tengak tenguk 
lah kae ono bakul gethuk,
reneo bakul gethuk, reneo bakul gethuk
aku tuku sak pincuk

awan awan lungguh dipan, awan awan lungguh dipan
lah kae ono bakul ketan,
reneo bakul ketan, reneo bakul ketan
aku tuku sak rantang

sore sore lenggah bale, sore sore lenggah bale
lah kae ono bakul sate,
reneo bakul sate, reneo bakul sate
aku tuku selawe


masih banyak lagi cerita dan lagu yang dipakai dalam ngudang anak di waktu menjelang tidur.
nah tinggal bagaimana kita pada saat ini menyikapinya.

Onggrongan

apa yang ada dalam benak anda mendengar kata onggrongan?

kata onggrongan adallah kata yang berasal asli dari bahasa jawa pemalang, mempunyai arti kalau jaman sekarang istilahnya adalah lebay, berlebihan, tergantung dari kalimat dan penggunaanya.
kata onggrongan digunakan untuk menyebut keadaan dimana seseorang melakukan hal yang diluar kebiasaanya, ingin dipuji, ingin dialem, bersandiwara atau berpura-upara.
onggrongan merupakan salah satu kata yang unik dalam bahasa jawa. karena tidak semua bahasa jawa menggunakan kata ini.
sesuatu yang dilakukan dengan tidak tulus, atau tidak berasal dari hati dan ada pamrrih ingin dipuji adalah salah satu contoh untuk menunjuk penggunaan kata onggrongan.

Ngudang anak jilid II ; Efek dan manfaat

NB: Jangan suka mengajari anak dengan bahasa pelo, misal : dawah jadi wawah, jatuh jadi atuh, susu jadi cucu..karena itu implementasi dari bentuk awal ketidakjujuran, apapun alasannya hal tersebut tidak dibenarkan. jangan sekali-kali mengonngrong anak, melebih lebihkan / dialem/ basa basi karena itu mengajarkan sikap yang tidak ksatria alias sikap berpura -pura

itu, mungkin padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya adalah aksi menimang anak.
Saya biasa melihat ibu-ibu di sekitar saya melakukan itu pada bayi-bayi mereka. Ada yang membuat bunyi-bunyi aneh seperti “nang ning ning nang ning nung” sampai yang suara brutal seperti… Duh, saking brutalnya sampai sulit dituliskan. Yang jelas ada banyak variasi, yang biasanya selalu tanpa arti. Tanpa makna. Setidaknya di telinga saya seperti itu, hanya kumpulan nada aneh.

Semuanya itu tampak wajar saja sampai serangkaian kebetulan membuat saya terpaksa memperhatikan tiga manusia menarik. Manusia pertama adalah seorang calon janda muda yang super sibuk. Yang kedua adalah bayi perempuan si Ibu, lucu tapi sering dititipkan kemana-mana. Dan terakhir adalah seorang mantan supir taksi yang aneh, supir kok tidak merokok dan maniak pingpong.
Suatu hari, tak lama setelah si ibu mampir menitipkan bayi dan langsung menghilang lagi entah kemana, muncul pak mantan supir, berkoar cari musuh untuk diajak main pingpong. Karena para pemalas masih terlalu sibuk bersantai, akhirnya pak supir akrab dengan si bayi terlantar. Tak sampai beberapa menit, si bapak mulai mengeluarkan suara-suara aneh. Saya pikir itu akan seperti biasa, seperti yang dilakukan orang lain.
Ternyata sangat tidak sama.
Yang dia nyanyikan itu seperti mantra berbahasa jawa, semacam gending berisi nasehat. Merdu dan khusuk sekali. Si bayi juga kelihatannya takjub, memperhatikan dengan sorot mata tajam seperti bertanya-tanya, “mahluk apa ini aneh sekali”, haha. Tapi lagu itu memang aneh. Sepertinya punya efek misterius, seisi rumah jadi terasa “beda”. Ya mungkin saja karena saya baru bangun jadi kepala masih cukup hening dan reseptif. Sayang saya tidak mengerti hampir semuanya :p
Beberapa hari setelahnya saya sempat tanya-tanya ke orang sekitar. Ternyata kebiasaan “ngudang” seperti itu sudah banyak ditinggalkan orang. Dulu masih banyak orang tua menyanyikan berbagai nasihat dan cerita untuk bayi-bayi mereka. Mungkin generasi orang tua saya adalah yang terakhir menerima, tapi entah kenapa tidak lagi meneruskannya pada anak-anak mereka.
Dari situ saya mulai ngeh, ternyata ada cara lain yang lebih beradab dalam memperlakukan bayi.
Sayangnya, banyak orang tua sekarang (yang saya lihat) cuma ngudang dengan nada-nada aneh tanpa makna. Atau ngajak ngomong dengan cara tolol, dimana orang tua berbicara seperti idiot yang pura-pura tidak bisa mengucap dengan baik. Atau menjelek-jelekkan si bayi dengan berbagai afirmasi keji. Itupun kalau si orang tua sempat, karena kebanyakan orang tua selalu sibuk mengais uang yang tidak akan pernah cukup. Semiskin atau sekaya apapun, semuanya selalu sibuk. Bayinya dititipkan untuk diiumbar didepan TV, disuruh melongo nonton Naruto, diajak menyimak Sinetron dan Gosip, atau distelkan handphone yang memutar MP3 cengeng.
Gila kan? Bayi manusia itu, konon, mempunyai reseptifitas luar biasa. Informasi apa saja akan diserap tanpa memilah baik buruk. Jika informasi yang sama diterima berulang-ulang, mungkin saja akan jadi program yang berjalan otomatis untuk seumur hidupnya. Iya kalau programnya bagus, lha kalau programnya cuma sekelas infotainment yang menjual iklan-iklan penyeru komersialisme? Untung saya nggak punya bayi.
Gimana dengan nasib bayi manusia di sekitar anda?
Trus?

Pesta Laut Baritan ; Khazanah Budaya ngapak Pesisiran

Pesta laut Tanjung Sari –Baritan

Sudah menjadi tradisi kehidupan nelayan di wilayah pantura jawa tengah,yaitu sebuah tradisi pesta laut atau yang sering di sebut oleh nelayan tanjung sari pemalang dengan istilah baritan,tradisi ini sudah turun menurun di lakukan di kampung nelayan ini,acara tradisi ini di adakan sebagai wujud rasa syukur para nelayan terhdapa rezeki yang di berikan oleh Allah.dalam tradisi baritan ini ada tradisi larung sesaji laut yaitu berupa kepala kerbau yang di hanyutkan di tengah laut.

Sampai sekarang tradisi ini masih di jalankan,biasanya di lakukan pada bulan muharram ,tapi juga belum tentu,kalau di tanjungsari biasanya di lalukan berdasarkan dari musyawarah para anggota koprasi nelayan.kadang di lakukan pada bulan agustus,kadang sehabis lebaran,jadi waktunya tidak pasti.

Tradisi baritan ini menjadi hiburan bagi warga nelayantanjungsari pemalang,karena banyak tersedia hiburan seperti pertunjukan wayang,orkes dangdut,atau dulu juga pernah ada pertunjukan layar tancap semlam suntuk,dan biasnya sebagai penutup acara di adakan pengajian syukuran sedekah laut.

Tapi saya mene saya mene awit nelayan kondisine pailit terus,acara baritan wis jarang di laksanakaken,karena baritan butuh dana sing akeh,asline mending daripada nggo baritan mending kanggo kesejahteraan nelayane,tapi wong arane tradisi kadang ora mikir nyampe semono.wis lah ora papa tradisi kuwe di jalakna tapi aja nganti ndadekna wong pada syirik,percaya karo sesaji,karo banyu bekase ndas kebo sing di larung,aja nganti nduwe perasaan atau anggapan sing kaya ngono.wis tetep percaya rezeki sing weweh gusti Allah,baritan di anggep bae sebgai hiburan kanggo wong nelayan,nyenengna anak bojo,ndeleng tontonan gratis.

Rezeki kuwe sing weweh gusti Allah,minyang entuk ora entuk,sepi apa rame,pemetan akeh apa ora,kuwe wis biasa,rezeki wis ana sing ngantur,aja syirik,marahi rugi dunia akhirat,seneng ora nang dunya.sengsara nang akhirat.nyatane gusti Allah esih weweh rezeki,percaya wong nelayan langka bangkrute,tinggal usahane bae luruh iwak sing kiyeng,mesine di dandani sing apik,jaringe di kitengi sing bener,wong iwak ora nandur beh kah,bener apa ora,la iyah…
Wis mana senengna anak bojo ndeleng baritan,tapi aja nganti ngrusk iman.Salam kanggo wong minyang tanjung sari.

Rajid:“Jon pan maring endi,kayonge necis temen,karo sapa koen”
Jon :“Karo pacare pan ndeleng baritan,njuh melu apa ora”
Rajid:“iya wis,engko enyong nyusul,makat ndisit wis,kuwe pacare di gandeng mbokan ilang”  

 Upacara baritan di tinjau secara sosiologis




Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.