Tampilkan postingan dengan label Pemalang-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemalang-an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2015

Rona JKT48


Setelah bergabung di JKT48, bagaimana dengan sekolah kamu?
Rona: “Tadinya aku kan, tinggal di Pemalang, Jawa Tengah. Sejak gabung di JKT48, aku pindah sekolah ke Jakarta. Aku dan Novi “JKT48” berada di satu sekolah yang sama. Untungnya sih, sekolah kami sangat mendukung kegiatan di JKT48. Jadi, bisa dibilang sekolah malah menyesuaikan dengan jadwal JKT48. Hehehe…”

 Adakah dukanya ketika bergabung dengan JKT48?
Rona: “Karena aku dari luar kota, sejak bergabung di JKT48, aku menjadi agak sulit untuk bertemu keluarga di Pemalang, terutama Papa. Cuma berkomunikasi lewat telepon. Selain itu, aku juga sedih, soalnya teman-temanku dari Pemalang yang lain nggak ada yang lolos audisi.”

NAMA TERPENDEK DIDUNIA ADA DI KABUPATEN PEMALANG

Anak dari pasangan Mulyaji dan Wariasi warga Desa Sokawangi, Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang ini duduk di kelas 10 SMA PGRI 1 Pemalang.
Aneh tapi nyata itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan D karena bocah ini mempunyai nama terpendek di dunia. D hanya menunjukkan bukti berupa berkas sekolah karena D belum mempunyai KTP, salah satu berkasnya yaitu 'Formulir Pendaftaran Peserta Didik Baru Kelas X SMA PGRI 1 Taman Pemalang' dan disitu jelas tertulis pada kolom terdapat nama D.
Anak dari pasangan Mulyaji dan Wariasi warga Desa Sokawangi, Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang ini duduk di kelas 10 SMA PGRI 1 Pemalang. D lahir pada 8 Mei 2000. Nama D mungkin terdengar aneh karena hanya 1 huruf dan mungkin hanya inilah nama terpendek yang ada di Kabupaten Pemalang. Menurut orangtuanya yang memberikan nama D kepada anaknya karena pada proses kelahirannya yang begitu cepat dan karena anak nomor keempat jadi diberikan nama D yang juga merupakan urutan abjad keempat. 2 dari anak bapak Mulyaji telah meninggal dan hanya D dan kakaknya.
D pun tidak terlalu pusing dengan nama yang diberikan orangtuanya, dia merasa senang karena mempunyai nama yang berbeda dari yang lainnya, teman-temannya di sekolah pun sudah terbiasa dengan nama D. Orang juga bertanya-tanya apakah anak-anak dari keluarga bapak Mulyaji dan Wariasi juga mempunyai nama yang pendek, ternyata D menuturkan bahwa kakaknya mempunyai nama yang normal yakni Iin Miskriani.
 Setelah heboh dengan nama-nama unik di sejumlah wilayah di Indonesia seperti 'tuhan' di Banyuwangi, 'nabi' di Pamekasan, 'Andi go to school' di Magelang, ternyata di Pemalang juga ada seorang gadis remaja dengan nama unik. D sendiri tidak terlalu memikirkan status namanya yang hanya satu huruf tersebut, karena selama ini tidak ada yang aneh dalam dirinya, justru karena namanya tersebut saat ini dirinya menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki nama yang unik.

Pak Pak Dooor

Pak pak dor dolanane nyong waktu cilik

Sabtu, 21 November 2015

Pengakuan Sintren


FILM SMK TEXMACO PEMALANG BORONG DUA GELAR JUARA SEKALIGUS



Kabar membanggakan kembali datang dari Pemalang. Tidak hanya dari cabang olahraga taekwondo dan bidang IT saja yang berprestasi, perfilman Pemalang pun tak mau kalah. Jumat malam 20 November 2015, Smk Texmaco Pemalang Jawa Tengah memborong dua gelar juara sekaligus pada malam penganugerahan Festival Film ''Semarak Indonesia 2015'' UNNES (Universitas Negeri Semarang) tingkat SMA/SMK se-Jawa Tengah yg diselenggarakan di gedung B6 Fakultas Bahasa dan seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Festival Film yg diikuti oleh 27 peserta dari SMA/SMK se-Jawa Tengah tersebut telah dimenangkan oleh film garapan sutradara Lukman Alfaris (Lukman Comal) beserta sineas-sineas dari Smk Texmaco Pemalang. Film ''Pahlawan 2000nan'' sebagai Juara 1 dan Film ''Untuk Guruku'' sebagai Juara 2. Tentunya prestasi tersebut berkat dukungan semua warga Smk Texmaco Pemalang, mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan hingga siswa.

Profil Pemalang


Selasa, 03 November 2015

Lotekan ; Lotisan

Makanan yang berisikan aneka buat diberi sambal gula merah yang manis pedas memang mantap di lidah

Senin, 02 November 2015

Ngudang Anak; Nyanyian dan Cerita

Ada beberapa hal yang menarik ketika kita masih kecil yaitu kita dinynyikan lagu pengantar tidur dan beberapa cerita cerita rakyat. mungkin pada jaman sekarang tradisi ngudang anak dengan melakukan tradisi tersebut mulai jarang dilakukan masyarakat. orang tua saat ini cenderung membiarkan saja anak tidur tanpa di kudhang kudang terlebih dahulu. sebenarnya banyak sekali manfaatnya kenapa leluhur kita melakukan hal tersebut, satu diantaranya adalah menciptakan  kedekatan orang tua dengan anak, kemudian juga memberikan pengajaran nilai nilai luhur moral dan etika dengan nyanyian dan cerita, sebagai media bersosial karena biasanya tradisi momong anak diwaktu sore dijadikan ajang berkumpulnya para ibu ibu, dan terciptanya generasi yang sadar akan dari mana ia berasal; JAS MERAH ( jangan sekali kali melupakan sejarah)
Masyarakat Jawa mengakui bahwa warisan yang diciptakan leluhur adalah salah satu budaya yang arif dan adiluhung guna mencapai kesempurnaan hidup.
salah satu nyanyian yang mungkin kita kenal selain tembang tembang macapat juga ada tembang dolanan, cerita rakyat dan sebagainya.

berikut salah satu nyanyian tembang dolanaan  yang mungkin jarang sekali dinyanyikan :

isuk isuk tengak tenguk, isuk isuk tengak tenguk 
lah kae ono bakul gethuk,
reneo bakul gethuk, reneo bakul gethuk
aku tuku sak pincuk

awan awan lungguh dipan, awan awan lungguh dipan
lah kae ono bakul ketan,
reneo bakul ketan, reneo bakul ketan
aku tuku sak rantang

sore sore lenggah bale, sore sore lenggah bale
lah kae ono bakul sate,
reneo bakul sate, reneo bakul sate
aku tuku selawe


masih banyak lagi cerita dan lagu yang dipakai dalam ngudang anak di waktu menjelang tidur.
nah tinggal bagaimana kita pada saat ini menyikapinya.

Hubungan Pemalang Dengan Mataram Dan Majapahit ; Sejarah Kompleks



Nama Pemalang berasal,terdapat bermacam-macam legenda sebagai berikut:
1. Nama Pemalang diambil dari kepribadian watak rakyat Pemalang yang bersemboyan:
- Benteng wareng ing payudan tan sinayudan.
- Banteng wareng ing sinonderan yang artinya, rakyat Pemalang jika sudah dilukai atau dijajah berani berjuang RAWE-RAWE RANTAS MALANG-MALANG PUTUNG BERANI BERKORBAN HABIS-HABISAN DEMI NUSA DAN BANGSA.
- Arti banteng wareng rakyat kecil payudaan : perang tan sinayudan : perang tidak dapat dicegah RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG BANTENG WARENG SINONDERAN : Dalam melawan musuh sambil menari-nari, sinonderan biarpun sampai kalung usus takan pantang menyerah.
2. Nama Pemalang diambil dari nama sungai me'malang' yang membentang dari sebelah utara desa Kabunan membujur ke pelabuhan Pelawangan. Sungai tersebut sering digunakan untuk sarana angkutan, membawa barang-barang dari pusat Pemalang ke berbagai wilayah seperti Kabunan, Taman, Beji, Pedurungan (pada abad ke XIV di masa Majapahit berkuasa) saat itu penguasa Pemalang adalah Ki Gede Sambungyudha.
3. Karena erosi akibat arus sungai yang membawa lumpur dari gunung ke laut diperkirakan per tahun terkikis lima-enam meter maka sungai MALANG berpindah ke utara dari Comal ke Asemdoyong, sungai itu melintang malang, tidak dari selatan gunung ke utara tetapi dari timur ke barat, sehingga membingungkan orang yang mau berbuat jahat. contohnya ketika patih Thalabuddin dari kesultanan Banten membawa keris Kyai tapak ia mendadak menjadi bingung ( keder ) sehingga mondar-mandir saja di Pemalang.
K ota Pemalang di pantai utara Jawa Tengah saat ini merupakan ibu kota Kabupaten Pemalang. Kota itu terletak di antara dua kota besar yang menjadi tetangganya, yaitu Pekalongan di sebelah timur dan Tegal di sebelah barat. Pemalang boleh dikatakan sebuah kota yang sudah tua umurnya sehingga kisahnya pantas dibanggakan.
Tanggal lahir Kabupaten Pemalang adalah 24 Januari 1575. Artinya, mulai saat itulah resmi ada pemerintahan kabupaten. Tentu saja jauh sebelumnya pasti sudah ada kehidupan masyarakat yang berpusat di daerah tersebut. Tidak mungkin suatu pemerintahan berdiri secara tiba-tiba.
Sejarah Pemalang dapat dikaitkan dengan Kerajaan Mataram Kuno yang berdiri pada tahun 700-an (abad ke-8) di Jawa Tengah. Kerajaan itu subur makmur loh jinawi; terbukti mampu membangun Candi Borobudur di Magelang dan candi-candi di dataran tinggi Dieng, dekat Wonosobo. Diperkirakan daerah Kedu yang memanjang dari Borobudur sampai Dieng merupakan wilayah inti kerajaan. Dihuni penduduk yang bertani dan berladang dengan penuh kebahagiaan.
Waktu itu belum dikenal nama Pemalang, tetapi tempat-tempat tertentu di daerah tersebut sudah dijadikan pelabuhan. Jadi, daerah Pemalang boleh dibayangkan sebagai pintu gerbang Mataram Kuno. Wajar, karena posisinya di bawah dataran tinggi Dieng. Namun, daerah itu belum sempat berkembang ketika terjadi keruntuhan Mataram Kuno.
Menurut sejarah, pada pertengahan tahun 900-an (abad ke-10) terjadilah perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur, yaitu di aliran Sungai Brantas. Mungkin karena gempa bumi atau gunung meletus. Pada zaman itu, Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro masih menjadi gunung berapi yang ganas. Mungkin juga karena perang. Yang jelas, surutlah kekuasaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Yang berkembang kemudian adalah Singosari, Kediri, dan Majapahit di Jawa Timur. Waktunya kira-kira dari abad ke-11 sampai akhir abad ke-15.
Kehidupan masyarakat yang tersisa di Jawa Tengah tetap berjalan terus, tetapi selama ratusan tahun tidak menghasilkan prestasi yang gemilang. Selama itu pula Pemalang merupakan daerah yang bebas dari kekuasaan mana pun. Mataram Kuno sudah runtuh, sedangkan kekuasaan baru di Jawa Timur sangat jauh jaraknya. Pemalang seperti "daerah tidak bertuan".
Konon Pemalang pernah dimanfaatkan oleh Patih Gajah Mada sebagai pangkalan perang ke Sriwijaya. Dukungan orang Pemalang di bawah pimpinan Ki Buyut Jiwandono atau Ki Buyut Banjaransari membuahkan hasil gemilang. Karena itu, Pemalang dijadikan daerah perdikan. Artinya, suatu wilayah yang tidak dipungut pajak. Sebuah perdikan biasanya diberikan kepada tokoh yang berjasa besar.
Pemerintahan atau kekuasaan di Pemalang mulai berkembang pada akhir tahun 1350-an berkaitan dengan Majapahit. Kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan di bawah kekuasaan Maharaja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Wilayahnya meliputi seluruh Nusantara, dan pengaruhnya sampai ke Pulau Madagaskar di dekat Benua Afrika. Kejayaan itu tercapai berkat Sumpah Palapa Gajah Mada yang bertekad mempersatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah bendera Majapahit.
Penyatuan atau penaklukan itu ada yang berjalan secara damai dengan hubungan dagang dan pemerintahan (politik), tetapi ada juga yang harus dengan peperangan. Walaupun sudah menjangkau seluruh Nusantara, masih ada daerah-daerah tertentu yang terlewat. Salah satu kerajaan yang belum tunduk kepada Majapahit adalah Pajajaran di Pasundan (Jawa Barat).
Pajajaran memiliki kekuatan militer yang canggih, dukungan rakyat yang hebat, kekayaan alam yang berlimpah, keindahan alam yang menawan, dan gadis-gadis yang cantik. Seorang putrinya yang bernama Dyah Pitaloka bagaikan bidadari turun ke bumi. Keadaan itu membikin Gajah Mada merasa sayang untuk menaklukkan Pajajaran dengan peperangan. Lantas dicarilah siasat yang jitu agar Pajajaran dapat dikalahkan secara damai, bahkan dirangkul mesra. Singkat cerita, tersusunlah sebuah siasat untuk menguasai Pajajaran.
Pada mulanya, disiapkan pinangan atau lamaran Hayam Wuruk kepada putri Dyah Pitaloka dengan keyakinan pasti disambut hangat. Pinangan dari seorang maharaja berarti penghormatan. Kalau sampai ditolak berarti perlawanan. Ternyata benar, lamaran itu diterima baik-baik, bahkan di-sanggupi keberangkatan calon pengantin putri ke Majapahit.
Tetapi apakah yang terjadi kemudian?
Sampai di desa Bubat rombongan Pajajaran dihentikan. Kemudian diberi penjelasan bahwa calon pengantin putri harus dihadapkan sebagai persembahan atau upeti. Artinya, Pajajaran harus mengakui kekuasaan Majapahit. Tentu saja hal itu menimbulkan kekecewaan Pajajaran sehingga terjadilah perang yang seru.
Tahulah Gajah Mada bahwa rombongan tersebut bukan pasukan militer yang siap berperang. Mereka hanya rombongan calon pengantin putri. Mereka kaget, panik, dan berantakan menghadapi serangan yang mendadak. Raja Pajajaran terpaksa mengakui kekalahan dengan dendam yang berat.
Dendam pun melekat di hati Dyah Pitaloka yang merasa dikhianati. Sadarlah dia bahwa pinangan terhadapnya hanyalah siasat Majapahit menaklukkan Pajajaran. Setelah lolos dari kancah pertempuran, dia pun berniat kembali ke Pajajaran. Akan tetapi, di tengah perjalanan dia mengakhiri hidupnya dengan kerisnya sendiri.
Peristiwa tragis itu terjadi pada tahun 1348 di desa Bubat sehingga terkenal dengan nama Perang Bubat. Dalam berbagai cerita tidak dijelaskan di mana sebenarnya letak desa atau kota Bubat. Yang ada sekarang adalah kota Babat di Kabupaten Lamongan, pantai utara Jawa Timur. Bisa dibayangkan pada zaman kuno tempat itu merupakan salah satu gerbang masuk ke Majapahit. Apakah Bubat di zaman kuno sama dengan kota Babat sekarang merupakan kisah tersendiri.
Di sebelah barat Pemalang ada kota kecil Babadan. Namanya hampir sama dengan Bubat. Mungkin juga di situlah perang terjadi. Yang jelas, setelah perang berakhir banyak prajurit Majapahit yang tidak langsung kembali ke markasnya. Ada yang beralasan jenuh berperang, ingin merintis kehidupan baru, dan berguru kesaktian kepada para pendekar terkenal.
Waktu itu Ki Buyut Banjaransari di perdikan Pemalang sudah tersohor kesaktiannya. Wajar bila banyak orang berguru kepadanya. Di antaranya adalah Ki Bondan Lamatan yang telah
Sampai di Bubat, terjadilah perang yang seru sehingga Raja Pajajaran terpaksa mengaku kalah dengan dendam yang berat.
bertugas sebagai senopati atau komandan prajurit Majapahit dalam Perang Bubat.
Ki Bondan Lamatan tidak hanya memperoleh kesaktian, bahkan menjadi menantu gurunya. Dia menikah dengan Endangsih dan menurunkan sepasang anak lelaki, yaitu Raden Sambungyudha alias Joko Malang dan Raden Aburabur. Setelah dewasa, Raden Joko Malang berguru kepada Ki Tapel Wojo hingga tuntas dan diakui masyarakat sebagai pendekar yang hebat.
Hal itu sangat menyenangkan hati ayah dan kakeknya. Kebetulan Ki Buyut Banjaransari tidak sempat mengurus perdikan Pemalang karena kesibukan. Mestinya Ki Buyut Banjaransari melimpahkan kekuasaan perdikan itu kepada menantu Ki Bondan Lamatan. Tetapi Ki Bondan belum sanggup melaksanakan, bahkan memilih jadi pendekar di Gunung Slamet. Itulah sebabnya kekuasaan perdikan diwariskan ke tangan Raden Joko Malang atau Raden Sambungyudha
 Diperkirakan nama Pemalang berkaitan dengan nama tokoh tersebut. Kata pe atau pa dalam bahasa Jawa dapat menunjukkan tempat, sedangkan malang kebetulan menunjukkan nama orangnya. Jadi, Pemalang berarti 'suatu tempat yang dimiliki atau dikuasai Raden Joko Malang'. Tidak lama kemudian, namanya menjadi Ki Gede Sambungyudha sesuai dengan kedudukannya sebagai penguasa. Waktu itu bumi Pemalang masih dipenuhi semak belukar, hutan lebat, dan rawa-rawa. Penduduknya terpencar di sepanjang sungai-sungai yang menjadi sumber air dan sekaligus jalur perhubungan dengan perahu dan sampan. Jalan darat masih sangat terbatas karena terhalang hutan dan semak belukar. Sulitnya perhubungan darat mendorong Ki Gede Sambungyudha merintis pembangunan jalan dan jembatan di berbagai termpat. Tokoh yang besar jasanya dalam rintisan itu adalah Ki Patih Jiwanegara.
Selanjutnya, Pemalang diperintah oleh putranya yang bergelar Adipati Anom Windu Galbo, sedangkan patihnya masih tetap Ki Jiwanegara. Sayang sekali, perkembangannya tersendat karena terputus dengan pusat kekuasaan Majapahit yang runtuh pada akhir tahun 1400-an. Kebetulan muncullah kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah, yaitu Demak Bintoro yang berkedudukan di Demak.
Namun, Demak Bintoro tidak berpengaruh terhadap perkembangan Pemalang. Demak Bintoro belum sempat memikirkan wilayah yang jauh-jauh. Penguasaan ke barat hanya sampai daerah Semarang. Tidak lama kemudian, terjadilah perebutan takhta kekuasaan. Dalam waktu singkat, Demak pun runtuh dan kekuasaan berpindah ke Kesultanan Pajang di dekat Surakarta. Kebetulan Pajang pun hanya bertahan sebentar karena terjadi juga perebutan takhta kekuasaan. Yang menang adalah Raden Sutowijoyo yang mulai berkuasa di Mataram (sekarang Yogyakarta).
 Runtuhnya Pajang mendorong para pemuda bangsawan dan priayi pergi mencari kehidupan baru yang lebih aman. Lebih baik hidup merdeka di kejauhan daripada ditindas kekuasaan lawan. Di antara mereka yang sampai ke Pemalang adalah Ki Gede Subayu dan Raden Sida Wini. Waktu itu Pemalang sedang komplang atau kehilangan kekuasaan. Artinya, tidak ada kekuasan yang kokoh. Sudah terputus dengan Majapahit yang runtuh, tetapi tidak terkait dengan Demak Bintoro, Pajang, dan Mataram.
Keadaan itu membuka peluang Raden Sida Wini menanamkan pengaruhnya di bidang pemerintahan. Pengalamannya sebagai bangsawan Pajang disambut hangat masyarakat Pemalang. Terbukti dia pun sempat berkuasa sebagai adipati Pemalang. Sementara itu, Ki Gede Subayu melanjutkan perjalanan ke barat dan berhasil merintis daerah baru yang kemudian bernama Tegal.
Pemerintahan yang dirintis Raden Sida Wini dilanjutkan oleh Kanjeng Jinogo Hanyokro Kusumo atau Darul Ambyah dengan semangat Islam. Pengangkatan dan pengakuan masyarakat Pemalang terhadap penguasa baru tersebut terjadi pada hari Kamis 24 Januari 1575 atau 2 Syawal 982 H. Karena itulah tanggal tersebut dijadikan sebagai tanggal kelahiran Kabupaten Pemalang.
Jelaslah riwayat Pemalang jauh lebih tua daripada Tegal dan Pekalongan. Kota tersebut sudah lahir pada zaman Majapahit, sedangkan Tegal dan Pekalongan tumbuh seratus tahun kemudian bersama kekuasaan Mataram.
Kesimpulan
Cerita ini memberi pelajaran kepada kita tentang kesadaran membangun pemerintahan yang kokoh demi kemakmuran rakyat. Suatu daerah yang tidak memiliki pemerintahan mudah dilanda kekacauan. Sebaliknya, pemerintahan yang tidak memikirkan kepentingan rakyat berarti mengkhianati tugas atau kodratnya.
Semangat Ki Gede Sambungyudha membangun jalan dan jembatan merupakan contoh kesadaran penguasa yang peduli terhadap kepentingan rakyat. Seharusnya, semangat itu dilanjutkan sepanjang zaman dengan selalu memihak kepentingan orang banyak.

Onggrongan

apa yang ada dalam benak anda mendengar kata onggrongan?

kata onggrongan adallah kata yang berasal asli dari bahasa jawa pemalang, mempunyai arti kalau jaman sekarang istilahnya adalah lebay, berlebihan, tergantung dari kalimat dan penggunaanya.
kata onggrongan digunakan untuk menyebut keadaan dimana seseorang melakukan hal yang diluar kebiasaanya, ingin dipuji, ingin dialem, bersandiwara atau berpura-upara.
onggrongan merupakan salah satu kata yang unik dalam bahasa jawa. karena tidak semua bahasa jawa menggunakan kata ini.
sesuatu yang dilakukan dengan tidak tulus, atau tidak berasal dari hati dan ada pamrrih ingin dipuji adalah salah satu contoh untuk menunjuk penggunaan kata onggrongan.

Ngudang anak jilid II ; Efek dan manfaat

NB: Jangan suka mengajari anak dengan bahasa pelo, misal : dawah jadi wawah, jatuh jadi atuh, susu jadi cucu..karena itu implementasi dari bentuk awal ketidakjujuran, apapun alasannya hal tersebut tidak dibenarkan. jangan sekali-kali mengonngrong anak, melebih lebihkan / dialem/ basa basi karena itu mengajarkan sikap yang tidak ksatria alias sikap berpura -pura

itu, mungkin padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya adalah aksi menimang anak.
Saya biasa melihat ibu-ibu di sekitar saya melakukan itu pada bayi-bayi mereka. Ada yang membuat bunyi-bunyi aneh seperti “nang ning ning nang ning nung” sampai yang suara brutal seperti… Duh, saking brutalnya sampai sulit dituliskan. Yang jelas ada banyak variasi, yang biasanya selalu tanpa arti. Tanpa makna. Setidaknya di telinga saya seperti itu, hanya kumpulan nada aneh.

Semuanya itu tampak wajar saja sampai serangkaian kebetulan membuat saya terpaksa memperhatikan tiga manusia menarik. Manusia pertama adalah seorang calon janda muda yang super sibuk. Yang kedua adalah bayi perempuan si Ibu, lucu tapi sering dititipkan kemana-mana. Dan terakhir adalah seorang mantan supir taksi yang aneh, supir kok tidak merokok dan maniak pingpong.
Suatu hari, tak lama setelah si ibu mampir menitipkan bayi dan langsung menghilang lagi entah kemana, muncul pak mantan supir, berkoar cari musuh untuk diajak main pingpong. Karena para pemalas masih terlalu sibuk bersantai, akhirnya pak supir akrab dengan si bayi terlantar. Tak sampai beberapa menit, si bapak mulai mengeluarkan suara-suara aneh. Saya pikir itu akan seperti biasa, seperti yang dilakukan orang lain.
Ternyata sangat tidak sama.
Yang dia nyanyikan itu seperti mantra berbahasa jawa, semacam gending berisi nasehat. Merdu dan khusuk sekali. Si bayi juga kelihatannya takjub, memperhatikan dengan sorot mata tajam seperti bertanya-tanya, “mahluk apa ini aneh sekali”, haha. Tapi lagu itu memang aneh. Sepertinya punya efek misterius, seisi rumah jadi terasa “beda”. Ya mungkin saja karena saya baru bangun jadi kepala masih cukup hening dan reseptif. Sayang saya tidak mengerti hampir semuanya :p
Beberapa hari setelahnya saya sempat tanya-tanya ke orang sekitar. Ternyata kebiasaan “ngudang” seperti itu sudah banyak ditinggalkan orang. Dulu masih banyak orang tua menyanyikan berbagai nasihat dan cerita untuk bayi-bayi mereka. Mungkin generasi orang tua saya adalah yang terakhir menerima, tapi entah kenapa tidak lagi meneruskannya pada anak-anak mereka.
Dari situ saya mulai ngeh, ternyata ada cara lain yang lebih beradab dalam memperlakukan bayi.
Sayangnya, banyak orang tua sekarang (yang saya lihat) cuma ngudang dengan nada-nada aneh tanpa makna. Atau ngajak ngomong dengan cara tolol, dimana orang tua berbicara seperti idiot yang pura-pura tidak bisa mengucap dengan baik. Atau menjelek-jelekkan si bayi dengan berbagai afirmasi keji. Itupun kalau si orang tua sempat, karena kebanyakan orang tua selalu sibuk mengais uang yang tidak akan pernah cukup. Semiskin atau sekaya apapun, semuanya selalu sibuk. Bayinya dititipkan untuk diiumbar didepan TV, disuruh melongo nonton Naruto, diajak menyimak Sinetron dan Gosip, atau distelkan handphone yang memutar MP3 cengeng.
Gila kan? Bayi manusia itu, konon, mempunyai reseptifitas luar biasa. Informasi apa saja akan diserap tanpa memilah baik buruk. Jika informasi yang sama diterima berulang-ulang, mungkin saja akan jadi program yang berjalan otomatis untuk seumur hidupnya. Iya kalau programnya bagus, lha kalau programnya cuma sekelas infotainment yang menjual iklan-iklan penyeru komersialisme? Untung saya nggak punya bayi.
Gimana dengan nasib bayi manusia di sekitar anda?
Trus?

Ngapak ; Jiwa Pemalang




Nyong pan mangan ah??, njokot motor ndingin pan lunga mareng alun-alun, nggolet lawuh kiye..nyong wis ngeleh.
waduh nggawa duit mung sepooloh ewu kiye, tuku apa ya?
pan tuku megana bae lah..pitung ewu dibungkus..
asem kah, bane bocor ah..waduk kah...su...teles...
durung mangan kah ya..
tukang tambale mareng ndi kiye??
om, nambal om..aja kesuwen wis ngeleh keh...wis denteni..

sikah, nyong klalen duite jebule kurang ah..utang ndingin ya om??

miki sih wis nggo tuku megana...
ya wis lah om ngenteni sedelat ya, tak goletna duit ndingin mareng kancaku mburi tip top...

hahahahaaa...daning nyong ngapak sih primen???

Pesta Laut Baritan ; Khazanah Budaya ngapak Pesisiran

Pesta laut Tanjung Sari –Baritan

Sudah menjadi tradisi kehidupan nelayan di wilayah pantura jawa tengah,yaitu sebuah tradisi pesta laut atau yang sering di sebut oleh nelayan tanjung sari pemalang dengan istilah baritan,tradisi ini sudah turun menurun di lakukan di kampung nelayan ini,acara tradisi ini di adakan sebagai wujud rasa syukur para nelayan terhdapa rezeki yang di berikan oleh Allah.dalam tradisi baritan ini ada tradisi larung sesaji laut yaitu berupa kepala kerbau yang di hanyutkan di tengah laut.

Sampai sekarang tradisi ini masih di jalankan,biasanya di lakukan pada bulan muharram ,tapi juga belum tentu,kalau di tanjungsari biasanya di lalukan berdasarkan dari musyawarah para anggota koprasi nelayan.kadang di lakukan pada bulan agustus,kadang sehabis lebaran,jadi waktunya tidak pasti.

Tradisi baritan ini menjadi hiburan bagi warga nelayantanjungsari pemalang,karena banyak tersedia hiburan seperti pertunjukan wayang,orkes dangdut,atau dulu juga pernah ada pertunjukan layar tancap semlam suntuk,dan biasnya sebagai penutup acara di adakan pengajian syukuran sedekah laut.

Tapi saya mene saya mene awit nelayan kondisine pailit terus,acara baritan wis jarang di laksanakaken,karena baritan butuh dana sing akeh,asline mending daripada nggo baritan mending kanggo kesejahteraan nelayane,tapi wong arane tradisi kadang ora mikir nyampe semono.wis lah ora papa tradisi kuwe di jalakna tapi aja nganti ndadekna wong pada syirik,percaya karo sesaji,karo banyu bekase ndas kebo sing di larung,aja nganti nduwe perasaan atau anggapan sing kaya ngono.wis tetep percaya rezeki sing weweh gusti Allah,baritan di anggep bae sebgai hiburan kanggo wong nelayan,nyenengna anak bojo,ndeleng tontonan gratis.

Rezeki kuwe sing weweh gusti Allah,minyang entuk ora entuk,sepi apa rame,pemetan akeh apa ora,kuwe wis biasa,rezeki wis ana sing ngantur,aja syirik,marahi rugi dunia akhirat,seneng ora nang dunya.sengsara nang akhirat.nyatane gusti Allah esih weweh rezeki,percaya wong nelayan langka bangkrute,tinggal usahane bae luruh iwak sing kiyeng,mesine di dandani sing apik,jaringe di kitengi sing bener,wong iwak ora nandur beh kah,bener apa ora,la iyah…
Wis mana senengna anak bojo ndeleng baritan,tapi aja nganti ngrusk iman.Salam kanggo wong minyang tanjung sari.

Rajid:“Jon pan maring endi,kayonge necis temen,karo sapa koen”
Jon :“Karo pacare pan ndeleng baritan,njuh melu apa ora”
Rajid:“iya wis,engko enyong nyusul,makat ndisit wis,kuwe pacare di gandeng mbokan ilang”  

 Upacara baritan di tinjau secara sosiologis




Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

Upacara baritan di tinjau secara sosiologis





Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang berasal dari daerah di pesisir pantai pemalang, tradisi ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para nelayan kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil melaut mereka selama satu tahun. Upacara ini biasanya di laksanakan pada waktu bulan maulud hari selasa atau jumat kliwon, upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  tengah laut. Yang menarik dari upacara adat ini, selain hasil bumi, jajanan pasar dan buah-buahan juga ikut di larung seekor kepala kerbau, upacara baritan tersebut di lakukan selama tiga hari tiga malam.
Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para nelayan agar di beri keselamatan saat melaut dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan nelayan yang ada di daerah pesisir pantai utara jawa. Upacara adat ini di kalangan masyarakat pesisir pantai pemalang  sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya. 
Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang dari masyarakat nelayan di daerah lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat nelayan pemalang terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat oleh karena itu masyarakat pemalang khususnya masyarakat nelayan pesisir pantai pemalang terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat nelayan, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil laut yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar nelayan di jauhkan dari malapetaka disaat sedang melaut, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.
Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pesisir pantai pemalang tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat nelayan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta, 
Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar,ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan nelayan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.